i ii iii
thantophobia
scared of losing somenone you love;
iv v vi

CERPEN : MENATANG MINYAK YANG PENUH
Sunday, 31 July 2011 • 9:30 am

Adi Putra bin Abdullah. Nama yang indah seperti orangnya juga. Badannya yang kurus dan mempunyai susuk tubuh yang cantik. Dia dijaga oleh ibubapanya dengan penuh kasih sayang dan sering dimanjakan. Dia anak tunggal, tiada adik, tiada abang atau kakak. Mereka tiga beranak hidup dalam kemiskinan. Kehidupannya seperti ‘kais pagi makan pagi, kasi petang makan petang’. Apabila umur Putra meningkat naik, dia mula berasa bosan hidup dalam kemiskinan. Pernah suatu hari, selepas pulang dari Sekolah Putra memarahi ibunya. “Ibu ! Putra bosanlah. Setiap hari asyik makan benda yang sama je ! Ubi kayu rebus, ubi kayu rebus ! Sampaikan kawan Putra cakap muka Putra dah macam ubi je. Putra nak juga merasa makan ayam goreng bu…”  Putra bersuara tinggi terhadap ibunya.
               “Nantilah nak, sekiranya ada duit lebih, ibu masakan Putra ayam goreng yer ?” kata ibunya lembut. “Dah banyak kali ibu cakap benda yang sama je. Nantilah ! Nantilah ! Nanti sampai bila bu ? Abah tu ! Keje bagai nak rak, tapi tak kaya-kaya juga.” Bentak putra, lalu pergi dari situ. Mengalir air mata ibunya. Sangat terasa kerana perbuatan Putra.
        
                  Pada suatu malam, Putra bertindak melarikan diri dari rumah. Dia mencuri duit ibubapanya. Ketika itu ibubapanya sedang tidur lena. Kepenatan agaknya. Putra mencari duit di dalam laci. Dia ternampak beg duit ibunya, Putra terus membuka. Ada duit RM50.00 dua keeping. ‘Haishh, banyak nie je ? Lantaklah asalkan aku dapat.’ Bentak hatinya. Putra melarikan dirinya ke Kuala Lumpur. Dia menggunakan wang yang diambil tadi. Tidak ada sedikit rasa bersalah pun dihatinya.

                   Setibanya di Kuala Lumpur, Putra terus mencari tempat untuk dia tidur pagi itu. Dia tidur di tepi kaki lima. Baru saja hendak melelapkan mata, dia dikejutkan dengan satu suara.

                  Sementara di rumah ibunya, pagi itu kecoh dengan kehilangan Putra. “ Putra mana kau pergi nak ?” Ibunya menangis pilu. Dia sudah meminta tolong tok Penghulu unutk melaporkan kejadian ini kepada polis. Orang kampung juga tolong mencari Putra. Ibunya dirumah masih menangis. Tapi, tiada air mata  yang keluar. Sudah kering airmata ibunya. Mana tidaknya dari pagi hingga ke malam menangis. Jam menunjukkan 12:00 tengah malam, Putra masih belum pulang.


     Di Kuala Lumpur, Putra sudah mendapat kerja. Kerja yang senang tapi perlu berhati-hati dan untungnya sangat lumayan. Kerja di Kelab Malam sebagai pengedar dadah. Orang yang menegur malam hari lepas ialah Abang Roy. Dia ketua pengedar dadah dan amat dikehendaki polis. Abang Roy sangat licik.
    
           Sudah sebulan Putra tidak pulang. Mereka tidak tahu dimana Putra berada. Ibunya jatuh sakit. Abahnya menjaga ibu Putra yang sakit. Dia amat marah dengan sikap Putra. Sementara Putra bergembira disana.

        Pada suatu malam, nasib tidak menyebelahi Putra. Kelab Malam tempat Putra bekerja diserbu polis secara tiba-tiba. Putra ditangkap dan dibawa ke Balai Polis. Di rumah, ibunya semakin tenat. Sakit merindukan Putra. Tiada selera makan. Hanya minum, itupun sedikit. Puas dipujuk oleh suaminya. 

             Tiba-tiba, pintu rumah mereka diketuk. Dua orang  anggota polis terpacak di muka pintu. “Assalamualaikum.” Salah seorang anggota polis memberi salam. “Sapa tu bang ? Putra ke ?” Tanya ibunya. Pantas dia bangun walaupun keadaannya masih lemah. Belum sempat abahnya jawab, ibunya sudah berada di sebelahn ya. “Ini rumah Adi Putra Bin Abdullah ?” Tanya anggota polis itu. “Ya!” jawab ibunya pantas. “Saya ibunya. Kenapa cik ? Encik dah jumpa anak saya ke ?” sambung ibu Putra.  “Encik, Puan, kami anggota polis dari Kuala Lumpur. Anak puan, Adi Putra telah ditangkap malam tadi kerana dipercayai mengedar dadah.” Kata anggota polis itu. Bagaikan tercabut tangkai nyawa ibunya selepas mendengar berita itu.

      “Ya Allah anakku!” pilu nadanya. Ibunya terduduk di lantai rumah. “Putra! Kenapa kau buat ibu macam nie nak ? kenapa ? Salahkah cara aku mendidik anakku ya allah ? Apa salah aku sehinggakan anak aku menjadi pengedar dadah ? Tidak cukupkah kasih sayang yang telah aku berikan kepadanya ? Aku menatang dia bagai minyak yang penuh, Ya Allah !” sayu rintihan hati ibunya.  “ Encik dan Puan diminta ke balai untuk beri keterangan.” Jelas anggota polis itu.

    Setiba mereka di balai, kelihatan Putra menangis. “Putra !” jerit ibunya.Putra terus berlari mendapatkan ibunya. “Ibu, maafkan Putra bu.. Putra tahu Putra salah. Putra dah sakitkan hati ibu. Putra tahu ibu sayangkan Putra. Ibu jaga Putra bagaikan menatang minyak yang penuh. Ibu manjakan Putra. Tapi…, ini yang Putra balas terhadap ibu. Maafkan Putra bu… Ampunkan Putra bu !” sayu rintihan Putra. “Ampunkan Putra bu….” Sambung Putra lagi. Dia mememuk kaki ibunya. Airmata abahnya sudah tidak dapat ditahan lagi. Bercucuran air mata mengalir. Putra bangun dan terus memeluk ibunya. Abahnya datang. Mereka bertiga berpelukan sambil menangis.

     Putra dikenakan hukuman penjara selama tiga tahun. Selepas tiga tahun Putra pulang. Dia menjadi anak yang baik. Dia membantu ayahnya mencari rezeki.  ‘Tidak sia-sia aku menatang Putra bagai minyak yang penuh. Walaupun berlakunya peristiwa tiga tahun yang lepas.’ Detik hati ibunya yang ketika itu melihat Putra sembahyang di biliknya.

(cerpen nie tercipta sewaktu peperiksaan pertengahan tahun 2011. ada soalan no.5, dia suruh tlis sebuah cerita berkaitan dengan peribahasa menatang bagai minyak yang penuh.  soo, tercetus cerita ini dalam kepala otak aku ! dan keputusannya aku dapat 31/40 ! wahh, bangga gila --' haha. btw, cerita nie tade kna mgna ngan sesapa. nama ADI PUTRA tuh aku guna sbb mse tuh aku tgh gila2kan ADI PUTRA yg handsome lagi kacak tuh :)) so harap tade sape2 yg trsa oke. )



Intro




Archive




Instagram




Shout Out Loud!



credit


design and template originally by ayuni